Laporan Praktikum
BIOLOGI TANAH
Oleh:
KELOMPOK IIII
ALKADRIN MANUI
043111002
PROGRAM STUDI
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2011
HALAMAN PENGESAHAN
JUDUL : BIOLOGI TANAH
NAMA : SURYANI FATMONA
NPM : 041 210 040
KELOMPOK : III (TIGA)
PRODI : AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS : PERTANIAN
Telah Disetujui Oleh
Koordinator Praktikum DDIT
(IDRIS ABD. RACHMAN, SP.M.Si)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah swt karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan penyusunan laporan hasil praktikum dengan baik, tak lupa
pula kita panjatkan salawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita
Nabi besar Muhammad SAW yang telah membuka jalan suci bagi kita dalam
menjalankan kehidupan ini.
Dalam penyusunan laporan “BIOLOGI
TANAH” masih banyak kekurangan baik dari segi materi, penulisan apapun bahasa.
Untuk itu diharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk
mnyempurnakan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini,
berbagai macam hambatan dan kesulitan yang dihadapi kami, namun atas bantuan
bimbingan dan kerja sama dari semua pihak sehingga dapat teratasi oleh karena
itu, perkenankanlah kami dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih
dan penghargaan yang setinggi-tinggnya kepada bapak Idris Abd. Rachman, selaku
bimbingan kami yang telah meluangkan waktu, tenaga pikirannya untuk memberikan
bimbingan kepada kami.
Akhir kata, semoga laporan ini bermanfaat
bagi kita semua, terutama diri penulis.
Ternate,
November 2011
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN ........................................................................................ Hal
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... i
KATA PENGATAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ iv
I.
PENDAHULUAN .................................................................................... 1
1.
Latar
Belakang ..................................................................................... 1
2.
Tujuan
Praktikum ................................................................................. 3
II.
TINJAUAN
PUSTAKA .......................................................................... 4
1.
Faktor
– Faktor Yang Mempengaruhi Biologi Tanah (Cacing Tanah). 4
III.
BAHAN
DAN METODE .......................................................................... 11
1.
Tempat
Dan Waktu ............................................................................... 11
2.
Alat
Dan Bahan ..................................................................................... 11
3.
Metode
Praktikum ................................................................................. 11
4.
Pelaksanaan
........................................................................................... 11
5.
Tehnik
Analisa Data ............................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 13
DAFTAR TABEL
Tabel Teks Halaman
1. Analisis Kotoran Cacing ........................................................................ 2
2.
Beberapa karakter seleksi r dan seleksi K .............................................. 4
3.
Pengaruh kelengasan tanah terhadap produksi kokon A. Chlorotica ..... 5
I. PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Cacing tanah merupakan hewan vetebrata yang hidup di
tempat yang lembab.dan tidak terkena matahari langsung.kelembaban ini penting
untuk mempertahankan cadangan air dalam tubuhnya .kelembaban yang di kehendaki
sekitar 60-90% selain tempat yang lembab, kondisi tanah juga mempengaruhi
kehidupan cacing seperi pH tanah, temperatur,
aerasi, CO2, bahan organik jenis tanah, dan suplai makanan.di antara
ketuju faktor tersebut, pH dan bahan organik merupakan dua faktor yang sangat
penting.kisaran pH yang optimal sekitar 6,5-8,5 adapun suhu ideal menurut
beberapa hasil penelitian beberapa berkisar antara 21-30 derajat celcius.
Cacing yang dapat mempercepat proses pengemposan
sebaiknya yang cepat perkembangan baik tahan hidup dalam limbah organik, dan
tidak liar. Dari persyaratan tersebut, jenis cacing yang cocok yaitu, Lumbricus
Rubellus, Elsenia Foetida, dan Pheretime
Asiatica. Cacing ini hidup dengan menguraikan bahan organik. Bahan organik ini
menjadi bahan makanan bagi cacing. Untuk memberikan kelembaban pada media bahan
organik, perlu di tambahkan kotoran ternak atau pupuk kandang. Selain
memberikan kelembaban, pupuk kandang juga menambah karbonhidrat, terutama
selulosa, dan merangsang kehadiran mikroba yang menjadi makanan cacing tanah.
Cacing tanah yang kadang-kadang sangat menjijikkan
itu merupakan penghuni tanah pekarangan, tanah persawahan, tegalan, hutan dan
tanah lainnya. Cacing tanah atau Megascolecidae
(lumbricus terrsetis) termasuk familia Annelida
(cacing yang bersegmen) meliputi sekitar
6.000 species, merupakan pelapuk dan penghancur
bahan-bahan organis (sisa tanaman, binatang) yang bermanfaat dalam
pembentukan tanah. Namun demikian banyak pula cacing yang menjadi parasit atau parasit fakultatif.
Perkembangbiakan cacing melalui telur-telurnya . sehubungan dengan
ini dapat di jelaskan tentang
perkawinannya yang hanya cukup dengan saling menggeserkan clitellum
masing-masing. Cacing selain berperan melapukkan dan menghancurkan bahan-bahan
organis di dalam tanah, juga berperan dalam
menyuburkan tanah. Hal ini dapat di jelaskan sebagai berikut:
a.
Cacing akan memakan /
menghisap apa saja yang ada di muka mulutnya, tanah, sisa tanaman/ binatang
yang suda lapuk, bakteri, cendawan, namatoda yang saprophit ataupun parasitis,
yang selanjutnya dicerna dan dikeluarkan sebagai kotoran;
b.
Biasanya cacing hidup
dan bergerak (secara membuat lubang-lubang dengan dorongan tubuhnya) di dalam
lapisan top soil, sehingga kotoran kotorannya dapat menyuburkan lapisan
tersebut, karena kotoran cacing merupakan hasil pencernaan lapisan tersebut,
karena kotoran cacing merupakan hasil pencernaan yang banyak mengandung
berbagai hasil persenyawan kimiawi yang kompleks.
Dalam hal ini
dapat dijelaskan bahwa sisa-sisa tanaman, mikro flora, mikrofauna yang mengandung
zat protein, karbohidrat, lemak dan enzim-enzim diubahnya dalam perut cacing
menjadi zat-zat mineral yang bermanfaat terkandug dalam kotoran-kotorannya yang
biasanya ditempatkan di pintu lubang / lorong-lorongnya secara bertunpukan.
c.
Lubang- lubang yang dibuat
cacing-cacing di dalam tanah yang kadang-kadang keluar dari batas lapisan top
soil masuk ke dalam lapisan sub soil sejauh 2 sampai 3 meter sangat membantu
masuknya air dan udara ke dalam tanah.
Khusus tentang kandungan bahan –bahan dalam kotoran
cacing beberapa ahli antara lain menyatakan sebagai berikut :
Tabel 1. Analisa
Kotoran Cacing
|
ZAT MINERAL
|
KOTORAN
CACING
|
TANAH
ASLINYA
|
|
Ph
FOSFAT
KALIUM
NITROGEN AMONIAK
CaO
NITROGEN TOTAL
BAHAN ORGANIS
|
6,7
53,9
ppm
294
ppm
49
ppm
2,37
%
0,151
%
1,52
%
|
6,4
37,3
ppm
193
ppm
33
ppm
1,95
%
0,054
%
1,20
%
|
Sumber:
Hanafiah (2005)
Sedangkan
Stockli yang juga melaksanakan penelitian pada kotoran cacing, antara
lain menyatakan sebagai berikut :
a. pH
atau reaksi pada kotoran cacing adalah lebih tinggi jika dibandingkan dengan pH
tanah aslinya;
b. kadar
humus yang terkandung pada kotoran cacing adalah lebih tinggui daripada tanah
aslinya;
c. populasi
mikroflora dalam kotoran cacing ternyata lebih meningkat
Dapat pula di jelaskan bahwa pembuatan lubang atau
lorong- lorong dalam tanah oleh cacing sampai jauh kedalam tanah (2 sampai 3
atau 4 meter ) berarti cacing telah mengangkat bagian- bagian tanah dari
lapisan sup soil paling bawah ke atas. Maka dengan kegiatannya ini
bagian-bagian dari zat mineral (terutama kalium) akan ikut terangkat ke lapisan
atas(top soil).jadi dapat memperkaya bahan – bahan mineral dalam tanah. Dari
uraian di atas maka di pandang perlu untuk melakukan percobaan biologi tanah.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini ialah untuk mengetahui
tingkat dekomposisi bahan organik dengan menggunakan cacing sebagai katalisator
selama 4 minggu.
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Biologi Tanah (Cacing Tanah)
Faktor-faktor ekologis yang mempengaruhi cacing
tanah menurut Hanafiah (2003) meliputi :
a.
Kemasaman
(pH) Tanah
Kemasaman tanah sangat mempengaruhi populasi dan
aktifitas cacing sehingga menjadi faktor pembatas penyebaran dan spesiesnya.
Umumnya cacing tanah tumbuh baik pada pH sekitar 7,0 namun L.terrestris dan A. caliginose dijumpai pada pH 5,2 – 5,4; beberapa
spesies tropis genus megascolex hidup
pada tanah masam ber pH 4,5 – 4,7 dan Bimastos
lonnbergi pada pH 4,7 – 5,1 bahkan Dendrobaena
Octaedra tanah pada pH dibawah 4,3
sehingga dianggap spesies yang tahan masam. Dilain pihak, Eiseinia foetida lebih menyukai pH 7,0 – 8,0 (Hanafiah, 2002)
Tabel
2. Beberapa karakter seleksi r dan seleksi K
|
Karakter
|
Seleksi r
|
Seleksi K
|
|
1. Iklim
|
Bervariasi
dan/atau tidak terprediksi, tidak pasti
|
Cukup
konstan dan/atau terprediksi, lebih pasti
|
|
2. Kematian
|
Sering
akibat bencana alam (katastrofi)/tidak langsung, tidak tergantung kerapatan
|
Lebih
langsung, tergantung pada populasi
|
|
3. Ukuran
populasi
|
Bervariasi
dengan waktu tak seimbang biasanya jauh dibawah kapasitas tamping lingkungan,
komunitas belum jenuh atau sebagian jenuh, secara ekologi vakum, rekolonisasi
setiap tahun
|
Setiap
tahun relative konstan, seimbang, pada atau mendekati kapasitas tampung
lingkungan, komunitas jenuh, tidak perlu rekolonisasi tahunan
|
|
4. Kompetisi
antar/interspesies
|
Bervariasi,
biasanya lemah
|
Biasanya
kuat
|
|
5. Kerapatan
relative
|
Sering
tidak memenuhi model tongkat patah Mc. Arthur.
|
Biasanya
sesuai
|
Banyak bukti yang menunjukan bahwa pH kotoran tanah
lebih netral ketimbang tanah habitatnya, yang terkait dengan adanya netralisasi
asam oleh :
1. Sekresi
kelenjar kalsifera yang dikeluarkannya pada saat melintasi tanah.
2. Sekresi
dari usus dan ammonium, tetapi bagaimana mekanismenya belum jelas.
b.
Kelengasan
Tanah
Sekitar 75 – 90% bobot cacing tanah hidup adalah air
(Gran cit. Anas 1990) sehingga
dehidrasi (pengeringan) merupakan hal yang sangat menentukan bagi cacing tanah.
Secara alamiah, cacing akan bergerak ketempat yang lebih basah atau diam jika
terjadi kekeringan tanah. Apabila tidak terhindar dari tanah kering, ia tetap dapat
bertahan hidup meskipun banyak kehilangan air tubuhnya. Sebagian besar Lumbrisidae dapat hidup[ meski tubuhnya
telah kehilangan hingga 50% air bahkan L.
Terrestris hingga 70% dan A. Chlorotica
hingga 75%.
Tabel
3. Pengaruh kelengasan tanah terhadap produksi kokon A. Chlorotica
|
Lokasi
|
Kelengasan (%)
|
Rerata jumlah kokon
per 5 cacing
|
|
Bones
Close
|
11,0
13,5
21,0
28,0
35,5
42,5
|
0,0
0,0
8,6
13,6
8,8
6,6
|
|
Westfield
|
1,6
24,5
33,0
42,0
50,0
|
0,0
0,6
8,4
9,4
3,0
|
Beberapa spesieslebih mampu berdaptasi terhadap
kondisi kering, L terestris ternyata
hidup sama baiknya pada plot tanpa dan dengan irigasi, ketimbang A. Caliginosa, dan A. Rosea yang tidak
bertahan lama pada plot tanpa irigasi.
c.
Temperatur
Aktifitas, pertumbuhan, metabolism, respirasi dan
reproduksi cacing tanah dipengaruhi perbedaan temperature sebagai berikut :
a. Jumlah
kokon produksi A Caliginosa dan
beberapa spesies lumbridae lainya berlipat 4 kali pada temperature 6 – 16 oC.
b. Penetasan
kokon A. chlorotica hanya berlangsung
36 hari pda temperature 20 oC, lebih cepat ketimbang 49 hari pada 15
oC dan 112 hari pada 10 oC
c. Priode
dewasa lebih cepat,yaitu 13 minggu pada 18oC ketimbang 28-42 minggu
pada ruang tanpa pemanasan dan 17-19 minggu pada 15oC; E foetida perlu 6,5 pada 28 oC
ketimbang 9,5 minggu pada 18o C.
d. Temperature
permukaan tanah optimum untuk aktifitas cacing tanah di malam hari adalah 10,5o
C,berselesih minimal 2o Cdi atas rumput dan ada hujan 4 hari
sebelumnya.
e. Limit
atas temperature kematian cacing tanah selah terpapar 48 jam adalah 28o
untuk L.terretris, 26o C
untuk A.caliginosa 25o C
untuk E foetida (50% mati pada 24,7o
C) dan pheretima hupiensis (50%mati pada 24,9oC) serta 29,7o C
untuk E. rosea (50%mati pada 26,3oC),dan 34-38,5oC untuk
H.africanus.
Tempertur berpengaruh terhdap distribusi cacing
dalam profil tanah,di England pada bulan januari dan februari ,waktu suhu
sekitar 0oC kebanyakan cacing tanah berada pada kedelaman 7,5 cm dan
waktu suhu 5oC bermigrasi ke kedalaman 10 cm. Pada kedelaman 10 cm
ini spesies yang umumnya di jumpai adalah cacing bsear yang meliputi A.clorotica, A.caliginosa dan A.rosea,
serta sedikit cacing kecil/ muda A.longa,A.nocturna
dan L.terrestris sedangkan cacing
dewasa dari ketiga spesies kemudian ini,yang relative berukuran lebih
kecil,telah bermigrasi ke kedalaman 7,5 cm. Pada juni-oktober kebanyakan cacing
tanah bermigrasi kedalaman lebih dari 7,5 cm dan sebaliknya pada November,
desember dan april. Dua faktor yang mendorong migrasi cacing ke lapisan yang
lebih dalam,yaitu:
a. Permukaan
tanah yang sangat dingin
b. Sangat
kering
d.
Aerasi
dan CO2
Tekanan CO2 mempengaruhi distribusi
cacing tanah meskipun distribusi spesies seperti E.eiseni dan D.octaedra pada beberapa tempat lebih di
batasi oleh minimalnya tekanan oksigen yang terjadi pada musim-musim
tertentu,tetapi penemuan Satchell ini rancu dengan beberrapa faktor seperti
Ph,kelengasan tanah,jumlah bahan organic segar,penutupan tanah oleh tanaman,dan
status mikroba.E eiseni ini terlihat
berkorelasi dengan potensial reduksi oksidas. Pendapat ini juga terbantah oleh
penemuan Boyton dan Rompton Bahwa tekanan O2 pada kedalaman tanah di
bawah 150 cm selama 6 bulan / pertahun dan kedalaman 90 cm selama 11
minggu/tahun hanya kurang dari 10% dan ternyata ada beberapa spesies yang masih
tetap hidup dalam waktu yang lama (Hanafiah,2003).
Namun di lain pihak, baru sedikit petunjuk yang
membuktikan bahwa cacing tanah tidak pindah ke tempat lain sebagai respons
terhadap perubahan konsentrasi CO2.E foetida tidak merspons
meskipun konsentrasi CO2 naik 25%,limit konsentrasi CO2
dalam tanah biasanya antara 0,01 – 11,5% sedangkan cacing tanah hanya dapat
hidup pada konsentrasi yang jauh lebih tinggi bahkan hingga 50% (Appelhof,
1980).
e.
Bahan
Organik
Distribusi bahan organic dalam tanah berpengaruh
terhadap cacing tanah,karena terkait dengan sumber nutrisinya sehingga pada
tanah miskin bahan organic hanya sedikit jumlah cacing tanah yang di jumpai.
Namun apabila,cacing tanah sedikit namun bahan organic segar
banyak,pelapukannya akan terhambat,seperti terlihat Wales, Australia yang tanpa
cacing tanah,akumulasi sisa rumput dapat setebal 4 cm,begitu cacing tanah
diintroduksi akumulasi ini tidak lagi terjadi (Subba Rao, 1994).
Populsi cacing tanah segera terpacu apabila tanah
diberi kotoran hewan,sebagaimana terlihat pada hasil-hasil percobaan (cit.
Anas, 1990) yerlihat bahwa populasi cacing tanah yang di beri pupuk kadang
dapat mencapai 3-15 kali lebih banyak ketimbang dalam tanah yang tidak diberi
pupuk kandang (Subba Rao, 1994).
f.
Jenis
Tanah
Hubungan jenis tanah dengan populasi dan spesies
cacing tanah telah diteliti Guld.di Skotlandia. Populasi cacing tanah paling
banyak dijumpai pada tanah lempung ringan, pasir ringan, dan lempung sedang, kemudian
pada alluvial, liat, dan lempung berkerikil serta paling sedikit pada tanah
gambut. Kemudian dari segi keragaman spesies, paling banyak terdapat pada tanah
bertekstur pasir ringan, serta pada tanah lempung, liat, dan alluvial
(Hanafiah, 2003).
g.
Suplai
Pakan
Berdasarkan hasil-hasil penelitian, dalam menyuplai
nutrisi atau pakan berupa sisa-sisa tanaman (serasah bagi cacing tanah perlu
diperhatikan palatabilitas (derajat kesukaan) dedaunan tersebut.
a. ada
yang lebih menyukai serasah segar yang berkalsium tinggi, seperti L.rubellus (yang memiliki alat mekanik
pengeksresi kalsium, sehingga berperan penting dalam perbaikan kejenuhan basa
dan pH) dan ada yang menyukai serasah yang mulai melapuk, seperti A. caliginosa yang juga memakan miselia
jamur.
b. Umumnya
lebih menyukai serasah berkarbohidrat-larut, gula dan berprotein tinggi, L. terrestris lebih menyukai serasah
tanaman Alnus glutinosa yang berkadar N > 1.4% ketimbang serasah berkadar
N < 1%.
c. Umumnya
paling tidak menmyukai serasah conivera seperti daun pinus jarum, cemara, larch, spruce, oak, dan beech, karena
(a) bertanin pekat, (b) berpolifenol larut air atau berfenol polihidrik tinggi,
beralkaloid pahit atau senyawa aromatic noxsions.
d. Urutan
palabilitas (kelebihsukaan) terhadap serasah adalah daun selada, kale, biet,
elm, jagung, lime, birch, oak, dan beech.
e. Inokulasi
sel-sel bakteri ke daun meningkatkan konsumsi serasah, sedangkan penyemprotan
pestisida kimiawi sebaliknya..
2. Komponen Penyusun
Tanah
Menurut N.C
Brandy(1974) dalam “The nature and properties
off soil” bahwa tanah itu merupakan suatu tubuh alam atau gabungan tubuh
yang dapat di anggap sebagai hasil alam bermatra tiga yang berupa paduan ataau
pengrusakan dan pembusukan, yang dalam hal ini pelapukan dan pembusukan
bahan-bahan organik adalah contoh-contoh proses perusakan, sedang pembentukan
mineral baru seperti lempung tertentu serta lapisan-lapisan yang khusus
merupakan prose-proses pembentukan. Gaya-gaya atau kegiatan-kegiatan tersebut
menyebabkan bahan-bahan di alam membentuk tanah. Sifat-sifat khusus tanah
sangat beraneka dari tempat ke tempat, seperti yang berkembang di iklim tropika
dengan yang di iklim ugahari (dingin).
Tanah merupakan suatu sistem yang dalam suatu
keseimbangan dinamis dengan lingkunganya(lingkungan hidup atau lingkungan
lainnya). Tanah tersusun atas 5 komponen yaitu;
a.
partikel mineral,
berupa fraksi organik, perombakan bahan-bahan batuan dan anorganik yang
terdapat di permukaan bumi.
b.
Bahan organik yang
berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang dan berbagai hasil kotoran;
c.
Air
d.
Udara tanah, dan
e.
Kehidupan jasad renik.
Perbedaan perbandingan komponen-komponen di atas
akan menyebabkan adanya perbedaan antara tanah yang satu dengan tanah lainnya.
Secara umum komposisi volume tanah bertektur lempung berdebu yang optimal bagi
pertumbuhan tanaman. Menurut Brady, (1974)
± 50% berupa ruang pori(udara dan mineral), sedang fasa dapat
menduduki volume sekitar 45% bahan mineral 4% bahan organik. Pada kelembaban
optimum bagi pertumbuhan maka 50% ruang pori itu akan terbagi atas 25% udara
25% air. Udara dan air dalam tanah itu keadaannya demikian goyang, perbandingannya
menentukan keserasian pertumbuhan tanaman.
III. BAHAN DAN METODE
1. Tempat dan Waktu
Praktikum ini di laksanakan di laboratorium dasar
Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate, pada tanggal 14 November 2011.
Dimana waktu pelaksanaannya mulai dari
pukul 14.00 sampai selesai.
2. Alat Dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang di gunakan dalam
praktikum ini antara lain yaitu hand sprayer, wadah (baki), alat tulis menulis,
kamera digital atau kamera HP, tanah, air, daun dadap, cacing tanah dan kotoran
ayam
3. Metode Praktikum
Metode yang di gunakan dalam praktikum ini adalah
metode pengamatan visual.
4. Pelaksanaan
Adapun pelaksanaan yang dilakukan,
yaitu :
1. Pengumpulan
dan penyiapan alat dan bahan
2. Daun
dadap dicabik-cabik menggunakan tangan hingga menjadi sekecil mungkin
3. Setelah
daun dadap dicabik-cabik, dilanjutkan dengan pengolahan tanah dimana tanah yang diambil dihaluskan dan
dipisahkan dari materi-materi lain selain tanah.
4. Kemudian
haluskan kotoran ayam yang tadinya dalam bentuk gumpaln besar menjadi gumpalan
kecil.
5. Masukan
sampel tanah lapisan I, daun dadap, dan pupuk kedalam baki yang telah
disiapkan.
6. Pemberian
cacing sebanyak sepuluh ekor kedalam baki yang berisi tanah, daun dadap, dan
kotoran ayam.
7. Dilanjutkan
dengan pemberian sampel tanah lapisan II dan III, diikuti dengan penyemprotan
air menggunakan hand sprayer
8. Setelah
itu, masukkan daun dadap dan kotoran ayam lalu disemprot kembali dengan air.
9. Selanjutnya
wadah yang telah terisi bahan-bahan tersebut di biarkan sambil diamati dan
melakukan penyemprotan air setiap hari dengan rentan waktu selama 3 minggu.
5. Metode Analisa Data
Metode analisa data yang digunakan adalah dengan
teknik deskriptif.
DAFTAR PUSTAKA
Appelhof,
M. 1980, “Pengomposan Dengan Cacing Tanah
Pada Skala Kecil”. dalam Anas (1990)
Buckman
dan Brady. 1974. Ilmu Tanah. Bhratara
Karya Aksara. Jakarta.
Hanafiah, K.A2002. Biologi Tanah. Rajawali Pers. Jakarta
_______.2003.
Biologi Tanah: Sebagi Pengantar ke
Bioteknologi Tanah. Ilmu Tanah FP Unsir, Indralaya, Sumsel.
_______.
2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Persada
Raja Grafindo Press. Jakarta.
Iswandi,
Anas. 1990. Biologi Tanah. IPB Press.
Bogor
Rachman,
A. I. 2010. Penuntun Praktikum di
Laboratorium & Pedoman Pengamatan Tanah di Lapangan. Faperta Unkhair.
Ternate.
Sutedjo dan Kartasapoetra,
(2005), Pengantar Ilmu Tanah, Rineka
Cipta, Jakarta.
Subba
Rao, N.S. 1994. Mikroorganisme dan
Pertumbuhan Tanaman. Edisi kedua (Terjemahan). UlPress. 353 hal.